Kepala Desa Cinta Angin, Janji Manis Berujung Angin: Dari Panggung Moral ke Drama Sembunyikan Anak
Negeri Kayangan, berita Pangandaran – Di Desa Cinta Angin, angin ternyata tidak hanya berhembus membawa kesejukan, tetapi juga kabar yang membuat warga harus menutup mulut rapat sambil mengangkat alis setinggi langit kayangan.
Sosok Kepala Desa Cinta Angin selama ini dikenal gemar berdiri di podium, mengumbar petuah tentang kehormatan, etika, dan pentingnya menjaga marwah desa. Namun di balik pengeras suara yang lantang, terselip kisah yang jauh dari kata teladan.
Konon, sekitar dua tahun lalu, sang kepala desa menjelma bak pangeran kesiangan bagi seorang janda yang hidup dalam kesederhanaan. Dengan rayuan yang lebih licin dari jalan desa yang baru diaspal menjelang pemilihan, ia menjanjikan pernikahan suci. Tidak tanggung-tanggung, bonus janji nafkah Rp3 juta per bulan pun ikut dilontarkan, lengkap dengan mimpi kehidupan layak.
Namun, seperti proyek papan nama yang megah tapi tak pernah dibangun, janji tersebut ternyata hanya berdiri kokoh dalam ucapan. Hubungan terlarang itu justru melahirkan seorang anak laki-laki yang kini menjadi bukti hidup dari janji yang gagal ditepati.
Alih-alih mengakui tanggung jawab, kabarnya sang kepala desa lebih sibuk membangun benteng pencitraan. Demi menjaga reputasi jabatan yang diselimuti slogan moralitas, anak tersebut disebut-sebut tidak boleh bebas bergaul di lingkungan masyarakat. Anak yang seharusnya berlarian di halaman desa, justru tumbuh dalam bayang-bayang aib yang bukan kesalahannya.
Lebih menyayat, janji nafkah bulanan yang dahulu diumbar bak bantuan sosial menjelang pilkades, kini hilang tanpa jejak. Nominal Rp3 juta yang dulu terdengar seperti jaring pengaman, berubah menjadi cerita dongeng yang hanya hidup di ingatan sang ibu.
Warga Desa Cinta Angin sendiri memilih bersikap seperti penonton drama panjang. Mereka melihat, mendengar, bahkan memahami alur ceritanya, namun tetap memilih diam. Sebagian takut, sebagian lagi mungkin sudah kebal dengan ironi kepemimpinan yang lebih piawai merawat citra dibanding menepati janji.
Di negeri yang katanya menjunjung adat dan moral, kisah ini menjadi pengingat getir bahwa kekuasaan kadang mampu mengatur arah angin, tetapi tak pernah benar-benar bisa menghapus bau bangkai yang tertiup perlahan.
Sementara itu, anak laki-laki tersebut terus tumbuh, membawa kisah yang suatu hari mungkin akan menjadi saksi, bahwa janji seorang pemimpin bisa lebih rapuh dari layang-layang putus saat musim angin datang. (***)
